Kanalsulawesi.com, Boltim – Mahasiswa Kuliah Kerja Dakwah (KKD) Institut Agama Islam (IAI) Muhammadiyah Kotamobagu menggelar kegiatan bimbingan belajar (bimbel) bagi anak-anak Desa Bongkudai, Kecamatan Modayag Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) selama masa libur semester sekolah.
Kegiatan ini tidak hanya dimaksudkan untuk mengisi waktu luang, tetapi juga menjadi bentuk intervensi edukatif atas kesenjangan akses dan kualitas pembelajaran yang masih dirasakan di tingkat desa.
Bimbingan belajar ini difokuskan pada tiga mata pelajaran dasar, yakni Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Matematika—tiga bidang yang dinilai krusial dalam membangun fondasi literasi, numerasi, dan kemampuan komunikasi anak sejak dini. Mahasiswa KKD menilai bahwa masa libur sekolah sering kali menjadi periode stagnasi belajar, terutama bagi anak-anak di wilayah desa yang memiliki keterbatasan sarana pendukung pendidikan.
Dalam pelaksanaannya, anak-anak dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan jenjang usia dan kemampuan belajar. Pola ini diterapkan untuk menghindari pendekatan seragam yang kerap tidak efektif, sekaligus memastikan setiap anak memperoleh pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya.

Metode pembelajaran dirancang sederhana, dialogis, dan interaktif agar anak-anak tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat aktif dalam proses belajar.
Pada mata pelajaran Bahasa Inggris, mahasiswa memperkenalkan kosakata dasar serta percakapan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran Bahasa Indonesia difokuskan pada peningkatan kemampuan membaca, menulis, dan pemahaman teks, sementara Matematika diarahkan pada penguatan logika berhitung dan penyelesaian soal dasar.
Ketua POKJA I KKD IAI Muhammadiyah Kotamobagu dalam keterangannya menegaskan bahwa kegiatan bimbingan belajar ini merupakan respons kritis atas realitas pendidikan yang belum sepenuhnya merata.
“Bimbel ini bukan sekadar kegiatan tambahan, tetapi bentuk kesadaran bahwa pendidikan di desa masih membutuhkan pendampingan nyata. Mahasiswa tidak boleh hanya hadir secara simbolik, tetapi harus mampu membaca persoalan struktural pendidikan dan mengambil peran, meski dalam skala kecil,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memantik kesadaran kolektif tentang pentingnya keterlibatan semua pihak—keluarga, masyarakat, dan institusi pendidikan—dalam memastikan hak belajar anak terpenuhi, bahkan di luar ruang kelas formal.
Apresiasi juga datang dari masyarakat, khususnya para orang tua siswa. Salah satu perwakilan orang tua anak yang mengikuti bimbingan belajar menilai kegiatan tersebut memberi dampak positif, tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi kesadaran orang tua terhadap pendidikan.
“Selama libur sekolah, biasanya anak-anak lebih banyak bermain tanpa arah. Dengan adanya bimbingan belajar ini, mereka tetap belajar dan lebih disiplin. Kami sebagai orang tua merasa terbantu, sekaligus diingatkan bahwa pendidikan anak tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke sekolah,” ungkapnya.
Melalui kegiatan bimbingan belajar ini, mahasiswa KKD IAI Muhammadiyah Kotamobagu berharap dapat memberikan kontribusi konkret dalam memperkuat dasar pendidikan anak-anak Desa Bongkudai. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun relasi sosial yang kritis dan berkelanjutan antara mahasiswa dan masyarakat, dengan pendidikan sebagai titik tolak perubahan.






