Kanalsulawesi.com, Kotamobagu – Salah satu program unggulan dalam 100 Hari Kerja Walikota dan Wakil Walikota Kotamobagu mulai direalisasikan. Program tersebut adalah Biokonversi Sampah Organik Berbasis Pemberdayaan Masyarakat, hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Kotamobagu dengan Pusat Pendidikan Mondowana.
Program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat, salah satunya Affandi Basso, warga Kelurahan Motoboi Kecil, Kecamatan Kotamobagu Selatan.
Affandi, yang akrab disapa Fandi, merupakan penyuluh pertanian swadaya sekaligus peternak ayam kampung skala rumahan yang telah berkecimpung di bidang ini sejak 2016. Sejak 2022, ia secara mandiri mempelajari budidaya maggot sebagai pakan alternatif ternak.
“Saya mulai budidaya maggot sejak 2022, awalnya karena mahalnya harga pakan ternak. Saya belajar sendiri, baca jurnal, tonton video, dan coba sendiri proses biokonversi sampah organik. Saya juga ambil sampah dari Pasar Poyowa Kecil yang dekat dengan rumah, karena ingin sekaligus membantu mengurangi sampah pasar,” Kata Affandi Basso, Kamis (22/05/2025).
Fandi menyambut baik kehadiran program pemerintah, yang mengedepankan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah dan inkubasi usaha lokal.
“Kami sangat senang karena apa yang disampaikan oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota saat kampanye kini mulai diwujudkan satu per satu. Saya masih ingat, mereka menjanjikan program inkubator bisnis dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Sekarang, dengan hadirnya Program Biokonversi Sampah Organik, masyarakat benar-benar dilibatkan sebagai pelaku utama,” jelasnya.
Affandi Basso mengatakan, bahwa program ini saat ini berada pada fase pertama, yakni Rintisan dan Penguatan Fondasi. Melalui pendampingan dari tim Pusat Pendidikan Mondowana, peserta program akan mengikuti kurikulum pelatihan, inkubasi kewirausahaan, dan perencanaan sistem usaha berbasis digital.
“Kami diajarkan untuk melihat sampah sebagai sumber daya. Dari situ kami bisa produksi maggot sebagai pakan, dan hasil sampingannya berupa kasgot bisa jadi nutrisi padat untuk pertanian. Ini sangat membantu peternak kecil seperti saya. Harapan saya, program ini bisa berjalan konsisten sampai lima tahun ke depan, karena saya yakin akan berdampak besar,” tutur Fandi penuh optimisme.
Sementara itu, Walikota Kotamobagu dr Weny Gaib dalam berbagai kesempatan menegaskan, bahwa program ini tidak hanya menjadi solusi pengelolaan sampah.
“Tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi sirkuler yang memberdayakan masyarakat dan memperkuat ketahanan pangan lokal,” pungkasnya.
Semangat dan inisiatif warga seperti Affandi Basso menjadi bukti bahwa ketika program pembangunan menyasar kebutuhan dasar masyarakat dan memberikan ruang partisipasi aktif, dampak yang dihasilkan dapat bersifat besar dan berkelanjutan.






