Kanalsulawesi.com, Bolsel – PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) menunjukkan langkah cepat dan kepedulian terhadap pelestarian satwa endemik dengan memberikan bantuan kepada penjaga hatchery atau tempat penetasan telur burung Maleo yang berada di Batu Manangis, Desa Molibagu, Kecamatan Bolaang Uki.
Sebelumnya, pada 23 Januari 2026, jajaran petinggi PT JRBM bersama Persatuan Relawan Pemuda Molibagu (Peredam) melakukan peninjauan langsung ke Hatchery Batu Manangis. Hatchery tersebut selama ini dijaga oleh Basri, yang juga merupakan anggota Modanggano Suwangge.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau kondisi lokasi penetasan telur burung Maleo sekaligus melihat potensi pengelolaan gula aren (gula semut/pinasu) yang dikelola oleh masyarakat setempat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen PT JRBM dalam mendukung pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Meski bergerak di sektor pertambangan, PT JRBM menegaskan komitmennya untuk tetap mengedepankan pelestarian satwa endemik serta mendukung kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Dalam pertemuan itu, pihak PT JRBM menyampaikan, rencana pemberian bantuan berupa gaji selama satu tahun bagi penjaga hatchery Maleo dan petani gula aren.
Selama ini, para penjaga hatchery diketahui bekerja secara sukarela dalam mengumpulkan telur Maleo dan menetaskannya.
Janji tersebut pun langsung direalisasikan. Pada Kamis, 5 Februari 2026, petinggi PT JRBM menggunakan dana pribadi untuk menyerahkan bantuan gaji melalui pendiri Peredam, Gaguk Prasetyo, kepada Basri selaku penjaga Hatchery Maleo Batu Manangis serta pengurus Modanggano Suwangge.
Basri mengungkapkan, rasa terima kasihnya kepada PT JRBM atas perhatian dan bantuan yang diberikan. Sebelumnya dirinya hanya bekerja secara sukarela dalam menjaga dan menetaskan telur burung Maleo.
“Terima kasih banyak buat PT JRBM yang sudah membantu, yang mana telah memperhatikan kami serta turut melestarikan burung Maleo,” ujarnya.
Basri juga menjelaskan, bahwa hingga kini ia masih aktif mengumpulkan, merawat, dan menetaskan telur Maleo sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Langkah ini dilakukan untuk melindungi telur dari ancaman predator.
“Saat ini saya bisa mengumpulkan lebih dari 30 butir telur. Proses penetasan memakan waktu sekitar dua hingga tiga bulan,” pungkasnya.






