Kanalsulawesi.com, Bolsel – Bagi masyarakat pesisir Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), laut bukan sekadar ruang hidup, tetapi juga tempat menggantungkan harapan.
Karena itu, saat program budidaya ikan bobara melalui sistem keramba jaring apung mulai dijalankan di Desa Motandoi Selatan, Kecamatan Pinolosian Timur, Senin (18/5/2026), yang tumbuh bukan hanya aktivitas budidaya, melainkan optimisme baru terhadap masa depan ekonomi masyarakat.
Di tengah keterbatasan dukungan program dan anggaran untuk pengembangan sektor perikanan budidaya, kehadiran program binaan PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) membuka peluang bagi masyarakat pesisir untuk mengembangkan potensi laut yang selama ini belum tergarap secara maksimal.
Program ini tidak hanya menghadirkan bantuan sarana budidaya, tetapi juga berupaya menjawab persoalan yang kerap membuat program serupa sulit bertahan, yakni minimnya pendampingan dan penguatan kapasitas kelompok.
Karena itu, pelatihan menjadi bagian penting sebelum benih ikan ditebar ke keramba jaring apung milik kelompok.
Ketua kelompok budidaya, Sukarto Paputungan, menjadi salah satu peserta yang paling antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Bersama anggota kelompok lainnya, seperti Ril Mokoagow, Meni Mamonto, Imran Paputungan, dan Rafli Alentadu, mereka aktif berdiskusi mengenai teknik pemeliharaan ikan, pengelolaan pakan, hingga strategi menjaga keberlanjutan usaha kelompok.
“Selama ini torang (kami) sebenarnya punya potensi laut yang bagus, cuma memang masih kurang pengetahuan dan pendampingan bagaimana mengelolanya dengan baik. Dengan adanya pelatihan dan program ini, torang jadi lebih paham cara budidaya ikan bobara yang benar. Harapannya tentu kelompok ini bisa berkembang dan nantinya benar-benar membantu ekonomi anggota dan masyarakat,” ujar Sukarto.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut.
“Atas nama kelompok, kami berterima kasih kepada JRBM, pemerintah desa, dan Dinas Perikanan yang sudah mendampingi langsung kegiatan ini. Bagi torang, yang paling penting bukan cuma bantuan, tapi bagaimana kelompok ini bisa terus berjalan dan mandiri ke depan,” tambahnya.
Bagi warga Motandoi Selatan, budidaya ikan bukan sekadar aktivitas tambahan. Di wilayah yang sangat bergantung pada hasil tangkapan laut, usaha budidaya dinilai mampu menjadi alternatif penguatan ekonomi keluarga, terutama ketika hasil tangkapan nelayan tidak selalu menentu.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bolsel, Boby Sampe, mengakui pemerintah daerah sangat terbantu dengan keterlibatan sektor swasta dalam mendorong pengembangan budidaya perikanan di masyarakat.
Menurutnya, Bolsel memiliki potensi budidaya perikanan yang cukup besar, namun belum seluruhnya dapat dikembangkan secara optimal karena keterbatasan dukungan program dan anggaran.
“Kalau potensi ini dikelola dengan baik, manfaat ekonominya besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan program sangat bergantung pada keseriusan kelompok dalam menjaga usaha agar tetap berjalan secara berkelanjutan. Pengalaman dari sejumlah program sebelumnya menunjukkan bahwa bantuan saja tidak cukup tanpa keterlibatan aktif masyarakat.
Hal serupa menjadi perhatian dalam pelaksanaan program binaan JRBM. Manager Corporate Social Responsibility (CSR) JRBM, Muhammad Rudi Rumengan, menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari hasil diskusi bersama pemerintah desa dan masyarakat untuk menentukan bentuk kegiatan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga.
Menurutnya, program budidaya sebelumnya pernah dijalankan, namun masih memiliki sejumlah kekurangan, terutama pada aspek pelatihan dan pendampingan teknis. Karena itu, pendekatan yang diterapkan saat ini lebih diarahkan pada penguatan kapasitas kelompok agar masyarakat mampu mengelola usaha secara mandiri.
“Harapan kami, kegiatan ini dapat berkembang dengan baik dan mencapai keberhasilan melalui dua indikator utama, yaitu terciptanya kelompok yang mandiri serta mampu menjalankan usaha secara berkelanjutan dalam jangka panjang,” katanya.
Pendampingan tersebut membuat suasana pelatihan berlangsung interaktif. Warga tidak hanya menerima materi, tetapi juga aktif bertanya dan berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang mungkin dihadapi selama proses budidaya berlangsung.
Sementara itu, Sekretaris Desa Motandoi Selatan, Kasran Paputungan, berharap program serupa dapat terus berlanjut karena dinilai mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
Menurutnya, keberadaan kelompok budidaya bukan hanya tentang usaha perikanan, tetapi juga menjadi wadah pembelajaran bersama untuk membangun usaha yang lebih terorganisir dan berkelanjutan.
Di sela kegiatan, dilakukan pula penyerahan bantuan jaket pelampung kepada pengurus kelompok, sebagai bagian dari dukungan program yang juga mencakup sekitar 2.500 bibit ikan bobara dan berbagai perlengkapan budidaya lainnya.
Namun lebih dari sekadar bantuan fisik, yang paling terasa pada hari itu adalah tumbuhnya harapan dan optimisme baru di tengah masyarakat pesisir Motandoi Selatan. Dengan dukungan pelatihan, pendampingan, dan semangat kebersamaan, budidaya ikan bobara diharapkan menjadi langkah awal menuju kemandirian ekonomi masyarakat yang lebih kuat dan berkelanjutan.






