Kanalsulawesi.com – Pagi di Landaso tak lagi sesunyi dulu. Di antara rimbun cengkeh dan kakao yang selama puluhan tahun menjadi denyut hidup warga Desa Popodu dan Sondana, suara mesin berat mulai memecah udara. Lahan yang dulu hanya akrab pada aroma tanah basah dan kelapa, kini perlahan berubah. Obrolan warga pun ikut berbelok arah. Jika dulu yang ramai dibahas adalah harga kakao dan musim panen, kini banyak mulut menyebut kata emas, gaji tambang, dan janji-janji CSR.
Tawaran pendapatan sekali kerja yang hampir menyamai 70 persen UMP Sulawesi Utara jelas menggoda. Di masa ketika hasil kebun mudah naik turun, angka itu terasa seperti angin segar. Namun, bagi sebagian warga—terutama para orang tua yang pernah menyaksikan banjir merendam kebun dan sungai berubah keruh—setiap rupiah datang bersama bayangan risiko.
Optimisme dan Kecemasan yang Hidup Berdampingan
Pendapat warga terbelah. Sebagian melihat tambang sebagai peluang: lapangan kerja, pembangunan, dan roda ekonomi yang ikut berputar. “Asal izinnya jelas, reklamasi dijalankan, dan lingkungan dijaga, apa salahnya?” begitu kata mereka.
Namun tidak sedikit yang memendam waswas. Mereka takut kebun kehilangan hasil, tanah menjadi labil, atau bencana hidrologis kembali datang. Perbedaan cara pandang ini wajar—dibentuk oleh pengalaman hidup, kebutuhan ekonomi, dan ingatan akan bencana yang pernah singgah.
Bayangan dari Daerah Lain
Apa yang terjadi di Landaso sejatinya bukan cerita baru. Penelitian Wahyono dkk. (2024) menunjukkan risiko pencemaran tanah dan air ketika pengawasan tambang melemah. Samosir (2025) mencatat turunnya fungsi hutan penyangga air di wilayah operasi tambang, sementara Putri dkk. (2025) menemukan berkurangnya keanekaragaman hayati di sekitar site.
Di Riau, lebih dari 2.600 hektare lahan di sekitar Sungai Singingi berubah menjadi tambang ilegal dalam 12 tahun—sementara pemulihan ekologinya berjalan tertatih. Papua punya cerita lain: ekonomi melonjak di awal, tetapi dampak sosial-lingkungan justru bertahan jauh lebih lama dari usia tambangnya.
Semua kisah ini bukan untuk menakut-nakuti. Ia adalah cermin, agar Landaso melangkah dengan mata terbuka.
Tanah, Air, dan Risiko yang Sering Tak Terlihat
Dampak tambang biasanya hadir perlahan: air yang keruh, tanah yang tak lagi stabil, atau produktivitas kebun yang pelan-pelan merosot. Vegetasi yang hilang membuat air cepat datang saat hujan, tetapi menghilang ketika kemarau. Sedimentasi membuat sungai tak lagi jernih dan irigasi terganggu. Bila penggunaan bahan kimia tak terkendali, logam berat bisa masuk ke rantai pangan.
Belum lagi potensi gesekan sosial akibat jurang pendapatan antara pekerja tambang dan petani—sesuatu yang sudah dirasakan banyak daerah.
Informasi yang Berjalan Lebih Lambat dari Ekskavator
Masalah lain yang sering muncul: warga tidak benar-benar memahami setiap istilah yang dipaparkan perusahaan atau pemerintah. AMDAL, reklamasi, daya dukung lingkungan—sering hanya lewat sekilas di pendengaran. Konsultasi publik berlangsung cepat, sementara warga belum sepenuhnya mengerti konsekuensinya.
Kartikasari (2025) mengingatkan bahwa rendahnya literasi lingkungan membuat warga cenderung fokus pada manfaat jangka pendek, bukan risiko ekologis yang bertahun-tahun membayangi. Kerusakan lingkungan, sekali terjadi, bisa menelan biaya pemulihan yang jauh lebih besar dari keuntungan awal.
Jika Tambang Tetap Datang, Mitigasi Harus Tiba Lebih Dulu
Apabila Landaso memang mengarah pada pembukaan tambang, mitigasi harus dimulai sejak titik nol. Baseline kualitas tanah dan air harus diteliti lebih dulu. Dana reklamasi perlu dikelola transparan, bisa dipantau publik, dan tidak hanya tercatat di atas kertas. Sungai harus dimonitor rutin dengan melibatkan warga. Luas area garapan pun perlu dibatasi agar kebun tetap hidup.
Edukasi lingkungan menjadi kunci—agar warga mampu menilai progres reklamasi, bukan hanya menyandarkan harapan pada janji.
Membuka Jalan Alternatif: Ekonomi yang Tidak Bertumpu pada Satu Sektor
Landaso sebenarnya punya peluang lain. Cengkeh dapat diolah menjadi minyak atsiri bernilai tinggi, kelapa menjadi VCO atau gula semut, hingga produk turunan lain yang pasarnya terus tumbuh. Jika pemasaran digital digarap serius, bukan mustahil hasil kebun Landaso menembus kota-kota besar dan bahkan pasar luar negeri.
Bukan untuk menutup pintu tambang, melainkan memastikan masyarakat tetap punya pilihan ketika lingkungan berubah.
Landaso dalam Tarikan Dua Arah
Kini Landaso berdiri di titik krusial. Akankah ia sepenuhnya menyerahkan diri pada tambang, atau mencari jalan tengah agar kebun tetap hidup bersisian dengan pembangunan?
Keputusan ini bukan hanya tentang ekonomi hari ini. Ia menyangkut tanah dan air yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Landaso membutuhkan diskusi terbuka, data yang jernih, dan keputusan yang tidak lahir dari euforia atau ketakutan.
Tambang bisa membawa berkah ekonomi—itu benar. Tetapi risikonya juga nyata jika pengawasan longgar.
Landaso, kebun yang dirawat dengan kerja keras masyarakat Popodu dan Sondana selama puluhan tahun, layak dikelola dengan kehati-hatian. Jika keseimbangan bisa dijaga, Landaso tak hanya menjadi persimpangan, tetapi contoh bagaimana sumber daya alam dapat diolah dengan bijak tanpa meninggalkan luka pada alam dan masyarakatnya.
Tulisan : Prabowo Asmomgin






